Senin, 29 September 2014

Disiplin Ilmu



Prentice (1990) menyatakan Ilmu Informasi sebagai disiplin, dan khususnya memakai pendekatan interdispliner (interdisciplinary approach). Dia menyatakan disiplin sebagai struktur, isi, dan implikasi dari sekumpulan pengetahuan tertentu (body of knowledge). Dalam perkembangan pesat saat ini, maka disiplin menjadi semakin kompleks.
Ada banyak disiplin yang berbeda-beda tetapi mungkin memiliki titik-awal dan tujuan yang sama, dan mungkin hanya berbeda dalam cara masing-masing memandang persoalan (subject matter) yang sama. Di dalam masyarakat, sebuah disiplin akademik biasanya membentuk organisasi profesional yang menerbitkan jurnal ilmiah, mengadakan konferensi, atau memberi penghargaan kepada ilmuwan atau peneliti yang dianggap mumpuni. Selain memiliki organisasi, sebuah disiplin juga biasanya memiliki “bahasa khusus” untuk memperlancar komunikasi ilmiah antar ilmuwan, strategi kebenaran (truth strategies) yang mempertegas perbedaan satu disiplin dari yang lainnnya., dan organisasi pengetahuan.
Sebuah disiplin lahir dan tumbuh dengan berbagai cara, misalnya:
  1. Pecahan dari disiplin yang sudah ada.
  2. Berada di pinggiran dari sebuah disiplin, dan tidak lagi menjadi pusat perhatian disiplin itu, lalu memisahkan diri menjadi disiplin khusus.
  3. Gabungan dari berbagai disiplin karena ada kesamaan –> bisa berbentuk disiplin baru atau interdisciplinary.
  4. Kebutuhan untuk mengatasi persoalan penting yang khas.
Selain Ilmu Informasi, Prentice memberi beberapa contoh disiplin baru. misalnya sosiologi pedesaan (rural sociology), arkeologi industri (industrial archeology), kajian penduduk setempat (native studies), sejarah ilmu pengetahuan, antropologi wanita , dan komunikasi ujaran (speech communication). Di Indonesia kita juga memiliki kajian ketahanan nasional, kajian lingkungan, dan kajian wanita.
Beberapa disiplin juga memperlihatkan fokus kepada upaya mengatasi masalah-masalah spesifik melalui kerjasama berbagai ilmu, misalnya:
  • Kedokteran hewan menggabungkan pengetahuan yang didapat dari ilmu tentang genetik, patologi, dan ilmu-ilmu dasar (basic sciences).
  • Kerja sosial menggabungkan pengetahuan yang didapat dari bidang hukum, ilmu perilaku dan psikologi.
  • Perencanaan sosial menyempat dari kerja sosial dan menambahkan bidang pengetahuan perencanaan regional (regional planning) ke dalamnya.
  • Kedokteran gigi menyempal dari kedokteran umum dan menambahkan pengetahuan budaya, terutam aspek estetika ke dalamnya.
 Terkadang penggabungan berbagai disiplin memperlihatkan berbagai ciri yang berbeda, sehingga Prentice membedakan antara tiga hal, yaitu:
  • Interdisipliner (interdisciplinary) adalah interaksi intensif antar satu atau lebih disiplin, baik yang langsung berhubungan maupun yang tidak, melalui program-program pengajaran dan penelitian, dengan tujuan melakukan integrasi konsep, metode, dan analisis.
  • Multidisipliner (multidisciplinay) adalah penggabungan beberapa disiplin untuk bersama-sama mengatasi masalah tertentu.
  • Transdisipliner (transdisciplinarity) adalah upaya mengembangkan sebuah teori atau aksioma baru dengan membangun kaitan dan keterhubungan antar berbagai disiplin. 
 Sementara itu, menurut Paisley (1990), Ilmu Informasi merupakan bagian dari sebuah konstelasi berbagai disiplin dan wilayah penelitian interdisipliner yang punya fokus sama, yaitu komunikasi manusiawi (human communication). Dia merujuk ke pendapat Fritz Machlup dan Jesse Shera yang sama-sama menganggap bahwa disiplin informas memperhatikan salah satu aspek dari sistem komunikasi yang menyeluruh (total communication system). Tulisan Vannevar Bush – As We May Think, sering dianggap sebagai “the manifesto of information science” walaupun Bush tidak menggunakan kata informasi, melainkan komunikasi dan pengetahuan.
Dalam pandangan Paisley, di dunia barat dan di Amerika Serikat muncul kecenderungan pihak teknologi dan rekayasa menggunakan istilah ‘informasi’ sementara pihak sosial-budaya menggunakan istilah ‘komunikasi’. Dalam konteks ini maka informasi lebih sering dikaitkan dnegan entitas yang tersimpan dan tersalurkan melalui teknologi tertentu, baik dalam bentuk perpustakaan maupun Internet. Sementara komunikasi merujuk ke proses yang dijalani manusia untuk memperoleh informasi dan pengetahuan. 
Paisley berpendapat bahwa Ilmu Informasi  selama ini lebih berurusan dengan simpan dan temu kembali informasi, dan kurang memperhatikan aspek proses komunikasi dan lingkungan sosial-budaya yang mempengaruhinya.  Sebaliknya Ilmu Komunikasi, khususnya disiplin komunikasi massa, lebih berurusan dengan kajian terhadap pengaruh media, terutama televisi, dengan lebih memperhatikan aspek sosial budaya daripada teknologi informasinya. 
Dalam perkembangan selanjutnya, menurut Paisley, ada tiga hal yang semakin lama semakin mempertegas ciri-ciri Ilmu Informasi sebagai multidisiplin, yaitu:
  • Informasi semakin diletakkan dalam konteks institusi, terutama perpustakaan, sekolah, media massa, perencanaan sumberdaya informasi, penyediaan jasa informasi, dan pengembangan sistem informasi.
  • Teknologi komunikasi memainkan peranan penting dalam perubahan, tetapi konteks sosial semakin diperhatikan juga. Perpustakaan digital, misalnya, tetap adalah sebuah perpustakaan.
  • Konteks epistemologi semakin dipertegas, karena kenyataan bahwa Ilmu Informasi juga mengandung beberapa cabang dari analisa sistem, statistika linguistik, cybernetics, dan antarmuka manusia-mesin, terutama yang dipengaruhi oleh pandangan kognitif dari bidang psikologi. 
  • Konteks sosial juga ikut dipertegas, terutama dengan mempelajari aspek sosi0-historis dan ekonomis dari penerapan teknologi informasi. Paisley mengingatkan bahwa Royal Society’s Conference of Scientific Information di tahun 1948 sudah bicara tentang bidang baru informasi bahkan sebelum ada komputer. Tahun 1950an dan 1960an ada upaya membangun sistem informasi untuk mendukung BigScience, dan baru pada pertengahan upaya itu muncul komputer. Makanya computer science dan information science berdekatan, sebelum akhirnya juga mengait ke hukum, psikologi, dan sebagainya. Juga ada kaitan dengan bisnis menjadi kajian khusus seperti business information dan  information industry.
    1. Kreativitas membutuhkan pengetahuan interdisipliner.
      Proses penemuan kerapkali mencakup tindakan menggabungkan ide yang sebelumnya tampak tidak berkaitan. Pemikiran yang kreatif kerap menghasilkan ide yang tidak lazim tapi membuahkan permutasi yang produktif. Aspek yang digabungkan bisa berasal dari satu disiplin, atau berasal dari permutasi ide dari dua atau lebih disiplin.
      2. Pendatang baru seringkali memberikan kontribusi yang penting pada bidangnya yang baru
      Observasi pendatang baru dapat membuka mata atas hal-hal yang baru. Misalnya di bidang antropologi, pendatang baru bisa melihat aspek aspek budaya yang kasat mata bagi penduduk asli. Para pendatang pun lebih cermat untuk tidak mengabaikan anomali.
      3. Penganut disiplin ilmu tertentu seringkali melakukan kesalahan yang hanya bisa terdeteksi oleh orang yang memahami dua atau lebih disiplin ilmu
      Pengamatan lintas disiplin berguna karena jurang antar disiplin ilmu terlalu luas. Sehingga tidak jarang ilmuwan mengambil kesimpulan yang bertabrakan dengan kesimpulan di disiplin ilmu lain akibat generalisasi atau tidak peka pada disiplin ilmu lain tersebut.
      4. Banyak sekali topik-topik riset yang jatuh di persimpangan beragam disiplin ilmu.
      Ruscio berargumen bahwa disiplin ilmu pada prakteknya tidak memiliki batas yang jelas selayaknya harapan para teoretisi disiplin ilmu tersebut.[6] Serta peneliti disipliner tampak mampu mengisi celah kosong yang produktif sehingga area abu-abu ilmu pengetahuan bisa diisi.
      5. Banyak permasalahan intelektual, sosial dan praktikal memerlukan pendekatan interdisipliner.
      Coba bayangkan sejarah pembangunan suatu negara. Beberapa tahun dan ribuan buku akan membawa kita pada kesimpulan, kebanyakan penulis gagal memahami secara keseluruhan karena terpaku pada satu disiplin ilmu saja. Kita harus ingat permasalahan yang muncul belum tentu datang dalam batasan satu disiplin ilmu saja. Misalnya reduksi polusi, ini bukan sekedar persoalan teknologi yang lebih baik saja, tetapi berkaitan dengan psikologi industri, efisiensi ekonomi, budaya pola hidup masyarakat, kebijakan politik, dan sebagainya.
      Seorang negarawan bisa melakukan kesalahan karena tidak memahami aspek teknis, sosial atau alamiah dari suatu kebijakan: sangat berbahaya memiliki dua atau lebih budaya yang tidak berkomunikas. ilmuwan bisa memberikan saran yang buruk dan pengambil keputusan tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Sejarah membuktikan bahayanya rekomendasi kebijakan yang terlalu sempit oleh mereka yang memiliki pengetahuan yang luas atau sebaliknya. Dalam dunia spesialisasi, seorang berpendidikan tinggi bisa tidak menyadari dimensi sosial dan moral dari tindakannya. Kompartementalisasi, selain rendahnya pendidikan adalah musuh besar yang hanya bisa ditaklukan oleh pendidikan yang menyeluruh.
      6. Pengetahuan dan riset interdisipliner berguna akan mengingatkan kita akan idealnya kesatuan badan ilmu pengetahuan.
      Tentu saja sekarang ini mustakhil untuk menguasai semua disiplin ilmu sekaligus. Tapi bila kita keliru mengartikan pengetahuan disiplin dengan kebajikan; jika kita lupa seberapa banyak kita tidak tahu; jika kita lupa seberapa besar kita tidak bisa tahu; jika kita tidak menginginkan, setidaknya sebagai prinsip, idealitas kesatuan badan ilmu pengetahuan; kita akan kehilangan sesuatu yang penting. Interdisiplineritas membantu kita mengingat hal ini, bahwa komponen komponen pengetahuan manusia merupakan pecahan dari keseluruhan bangunan pengetahuan.
      7. Pelaksana praktek interdisipliner menikmati fleksibilitas yang lebih besar dalam risetnya.
      Kebanyakan bidang ilmu mengalami kemajuan yang pesat, diikuti dengan periode stagnasi. Pada saat saat ini dalam konteks pribadi, ilmuwan yang berani pindah ke disiplin ilmu yang baru akan menikmati fleksibilitas dan kebebasan baru dalam karir mereka, sebuah imbalan personal untuk kesedian melintasi batas disiplin ilmu.
      8. Ketimbang terpaku pada satu disiplin ilmu yang sempit, penganut interdisipliner sering merasakan sensasi intelektual yang mirip dengan penjelajahan di lahan yang baru.
      Pada titik tertentu, imbal balik dari proses input tertentu mengecil secara progresif. Butuh berjam jam untuk belajar catur, dan tahunan untuk menjadi ahli. Hal serupa terjadi dalam dunia pembelajaran. Misalnya seorang ahli anatomi serangga dalam rangka menjadi ahli bisa jadi tidak pernah membaca Tolstoy atau tidak pernah mendengar Vivaldi akibat alokasi waktu yang ketat. Hidup ini telalu singkat untuk menjadi ahli dalam banyak bidang sekaligus. Agar menjadi ahli dalam bidangnya mereka berakhir hanya mengeksplorasi satu minat saja. Interdisiplineritas, kontras dengannya, selamanya memperlakukan diri mereka dengan intelektualitas yang setara dengan menjelajahi daerah eksotik.

      9. Pelaksana ilmu Interdisipliner bisa menjembatani jurang komunikasi dalam akademi modern, karenanya membantu memobilisasi sumberdaya intelektual yang besar dalam membangun rasionalitas yang lebih besar.
      Universitas modern hanya memiliki efektifitas yang sedang sebagai agen perubahan sosial. Kenyataannya dunia akademik menikmati kesuksesan yang minim dalam memobilisasi sumberdaya intelektualnya untuk memperbaiki masyarakat. Alasannya cukup jelas: fragmentasi disiplin ilmu membuat akademik pasif dihadapan dunia yang sewenang-wenang. Dalam komunitas dengan bahasa yang berlainan diperlukan komunikasi yang efektif untuk menggabungkan kekuatannya. Interdisiplineritas, dengan mengingatkan kita pada ideal kesatuan badan pengetahuan, dengan menguasai dua atau lebih bahasa akademik, bisa berkontribusi pada integrasi budaya akademik.
      10. Dengan menjembatani disiplin ilmu yang terfragmentasi, interdisipliner bisa berperan dalam membela kebebasan akademik.
      Penegakan nilai ekstrinsik akuntabilitas,nilai intrinsik pencarian reputasi dan kontrol kualitas dari rekan sejawat bisa mengarah kepada perbudakan intelektual dan kemudian pada kemandulan akademik. Akibat fragmentasi disiplin ilmu, akademisi kerap gagal mendeteksi ancaman besar pada kebebasan akademik ini. Pemahaman pentingnya kerjasama bisa menjadi pelindung melawan birokratisme yang berusaha menerapkan pengawasan yang ketat, berdasarkan indikator performa. Karenanya cukup penting untuk menjaga kebebasan seorang akademisi dalam memilih apa yang akan dikaji dan apa yang tidak.
      Pendekatan lintas disiplin ilmu ini juga memiliki kelemahan. Pertama, untuk mendapatkan jarak pandang yang luas, seorang bisa jadi mengorbankan waktu untuk menjadi ahli di satu bidang. Kedua, perlu dihindari upaya melakukan generalisasi yang naïf akibat pengabungan beberapa disiplin ilmu. Ketiga, Ilmuwan yang dikategorikan lintas batas menghadapi hambatan profesi yang masih memprioritaskan spesialisasi disiplin ilmu. Keempat, interdisiplineritas kerap dicap sebagai kompetitor oleh spesialis disiplin ilmu.
      Untuk mengatasi kelemahan ini haruslah melakukan perubahan cara berpikir. Akademik perlu memberi ruang bagi tumbuh kembangnya pengetahuan dan riset interdisipliner. Selayaknya ekosistem, akademik perlu merawat spesialis dan generalis demi terciptanya kemajuan akademik yang kaya. Perubahan cara berpikir ini salah satunya berkat tekanan imperatif lingkungan hidup.
      Russel mengatakan pendekatan lintas disiplin semakin mendesak akibat tekanan permasalahan lingkungan hidup (environmental imperative).[7] Sejak tahun 1960an, masyarakat industry modern telah menyaksikan perubahan dramatis dari kepedulian sosial atas isu lingkungan. Berkembangnya gerakan sosial lingkungan hidup turut menekan pemerintah untuk mengakui dan menyelesaikan persoalan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh industri dan praktek sosial (gaya hidup) modern. Imperatif lingkungan hidup ini terlihat pada program ‘Manusia dan Biosfer’ dari UNESCO pada 1970an, Laporan Brundtland di 1980an dan Rio Earth Summit pada tahun 1990an.Lalu, Negara-negara merespon dengan membangun kementerian lingkungan hidup, meratifikasi perjanjian dan traktat isu-isu lingkungan hidup serta berpartisipasi pada pembangunan organisasi lingkungan hidup internasional. Salah satu indikasi meningkatnya kepedulian pada isu lingkungan hidup adalah bagaimana kemajuan pembangunan ekonomi ditekankan pada isu keberlanjutan.
      Meskipun kepedulian meningkat, permasalahan lingkungan hidup semakin besar. Permasalahan ini terdokumentasikan di berbagai organisasi internasional seperti United Nations Environmental Programme (UNEP), UNFCC (Climate Change) atau UNDP. Permasalahan yang dihadapi dunia termasuk tapi tidak terbatas deforestasi, polusi air, tanah, udara, degradasi lahan subur, penggurunan, degradasi keanekaragaman hayati dll. Ketika persoalan tersebut dibenturkan dengan ancaman perubahan iklim, situasi menjadi semakin pelik. Semakin memanasnya dunia dan perubahan iklim akan menggoncang ekosistem disegala penjuru dan lapisan kehidupan.
      Seirama dengan kesadaran politik, riset akademik mengkaji ‘lingkungan hidup’ turut meningkat. Walaupun sebelumnya kajian telah dilakukan di disiplin ilmu seperti biologi, geologi, hidrologi, geografi, arkeologi dll, Kesadaran untuk mengkombinasikan dan menghubungkan berbagai bidang pengetahuan tersebut datang baru-baru saja, terutama untuk mencapai aspek keberlanjutan pembangunan.
      Aspek ini telah menjadi faktor pendorong yang merubah pola pikir riset lintas disiplin ilmu. Konsep dan upaya mencapai pembangunan berkelanjutan juga telah menarik perhatian pentingnya mengkombinasikan pengetahuan dari ilmu sosial dan alam. Kesalinterhubungan permasalahan lingkungan hidup juga mengakibatkan perlunya kerjasama inter dan intra institusi dari level lokal hingga global. Hasrat untuk memahami lingkungan hidup secara menyeluruh dan membangun solusi untuk mengatasi masalah lingkungan telah mengakibatkan proliferasi pusat kajian dan mata pelajaran yang fokus pada masalah lingkungan hidup. Ini adalah bentuk mengkristalnya transdisiplinaritas akibat tekanan imperatif lingkungan hidup.
      Perspektif yang memfokuskan pada imperatif lingkungan hidup, mengakui permasalahan yang muncul hadir dalam konteks sosial dan alam yang terkait secara kompleks, penuh ketidakpastian dan tidak adanya batasan disiplin ilmu yang jelas. Lebih jauh lagi, mencari solusi untuk persoalan lingkungan hidup tidak hanya membutuhkan pemahaman atas lingkungan hidup dan ancamannya; tetapi juga harus mempengaruhi tindakan dan perilaku berbagai aktor di masyarakat.
      Cara berpikir ini melihat solusi memerlukan produksi pengetahuan yang berdasarkan pendekatan sistemik menyeluruh ketimbang partial; tidak terkungkung oleh batasan pengetahuan yang ketat, bisa menghadapi kompleksitas dan ketidakpastian; dan mampu mengintegrasikan dan mengkomunikasikan pengetahuan diantara semua aktor dan antar bidang disiplin ilmu.
      Pendek kata, pendekatan lintas disiplin penting dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang timbul dimasyarakat. Serta tekanan imperatif lingkungan hidup telah menjadi salah satu faktor pendorong praktek transdisiplinaritas dan kajian lintas disiplin ilmu lainnya. Karena itu dikala upaya kita memperdalam spesialisasi di dalam disiplin ilmu kita, ada baiknya kita memberikan perhatian juga pada kajian lintas disiplin ilmu.

Intermedia itu istilah di seni, berkaitan dengan konsep antara dua genre (aliran) seni, aliran diantara dua seni. Misalnya antara puisi dan lukisan.
Tugas 1 INTERMEDIA
Judul Karya : Gantungan Perhiasan
Alat dan Bahan    :
Ø  Bambu (bambu yang sudah tua)
Ø  Kawat (3 ukuran,yang besar 2 m, yang kecil 5 m dan yang paling kecil 15 m)
Ø  Tang
Ø  Benang dan kain flanel
Ø  Lem  G dan benang rajut
 
Gambaran karya :
          Karya ini terinspirasi dari bentuk pohon yang beranting, dengan berbahan pokok bamboo karya ini sengaja diciptakan, dan kawat sebagai bahan pendukung serta hiasan agar karya terlihat menarik, kawat juga berfungsi sebagai penyanggah atau penguat agar bamboo tidak mudah patah.
Manfaat karya :
          Karya ini di buat agar pengguna perhiasan tidak susah untuk menata,menaruh,memilih serta mengambil perhiasan, karena mudahnya meletakkan karya ini,juga mempermudah pengguna untuk meletakkan perhiasan yang di koleksinya.
Proses Pembuatan :
1.siapkan bambu dan bersihkan

         2.bambu yg sudah bersih siap digunakan

3. mulai lilitkan kawat di bagian yang di inginkan.


4.buatlah motif-motif untuk menambah hiasan
5.buatlah lilitan kawat sesuka hati, dan harus kuat,agar tidak mudah patah
6.jika sudah jadi,bisa kita coba kekuatanx dengan menggantungkan kalung.
7.langkah terakhir pembuatan kaki.lilitkan 4 kawat yg besar,serta benang dan kemudian tuang lem G agar tidak bergerak ,dan kemudian di lapisi kawat kecil.
8.setelah selesai,karya sudah sempurna dan bisa di gunakan,hanya perlu menambah pernak pernik agar cantik


FINISH