Jumat, 25 Desember 2015

Masa Penentuan (Period of Decision) 14- 17th

     Pada  periode  ini  tumbuh  kesadaran  akan  kemampuan  diri.  Perbedaan  tipe individual  makin  tampak.  Anak  yang  berbakat  cenderung  akan  melanjutkan kegiatannya  dengan  rasa  senang,  tetapi  yang  merasa  tidak  berbakat  akan meninggalkan  kegiatan  seni  rupa,  apalagi  tanpa  bimbingan.  Dalam  hal  ini  peranan guru banyak  menentukan,  terutama dalam meyakinkan  bahwa  keterlibatan  manusia dengan  seni  akan  berlangsung  terus  dalam  kehidupan.  Seni  bukan  urusan  seniman saja, tetapi urusan semua orang  dan siapa pun tak akan terhindar dari sentuhan seni dalam kehidupannya sehari-hari.
Gambar anak memiliki keunikan dibandingkan dengan orang dewasa. Hal ini  terjadi  karena  anak-anak  masih  memiliki  keaslian  dalam  tata  ungkapan emosinya  dalam bentuk gambar  atau karya. Secara khusus, berikut ini disarikan berdasarkan  pendapat  Soesatyo  (1994:  32  –33)  bahwa  sifat  lukisan  (gambar)  anak-anak sebagai berikut:
1. Ideographisme. 
Lukisan  anak  merupakan  ekspresi  berdasar  pengertian  dan  logika  anak, contoh: anak melukis muka manusia dari samping, meskipun dalam kenyataan penglihatan, matanya nampak sebuah saja, tetapi berdasarkan pengertian anak bahwa manusia itu bermata dua, maka dilukislah kedua mata itu disamping.
2. Steorotif atau otomatisme.
Ciri  gambar  anak  yang  kedua  adalah  ditemukannya  gejala  umum penggambaran  bentuk  benda  secara  berulang-ulang  dengan  ukuran  yang monoton.  Gejala ini dinamakan stereotipe. Misalnya figure manusia yang diulang  dalam  bentuk  yang  sama  meski  warnanya  berbeda- beda. Atau bunga-bunga yang sama diulang-ulang. Bahkan sampai pada tema yang terus diulang-ulang.
3. Gejala finalitas
Sungguh unik bila kita cermati dan amati gambar anak, anak menggambarkan peristiwa yang mengandung  unsur  ruang  dan  waktu.  Biasanya anak melukiskan manusia atau mahluk lainnya dalam gerak.  Penggambaran suatu peristiwa yang sedang terjadi divisualisasikan dengan membuat objek gambar yang diulang-ulang. Namun  tidak  semua  bagian  atau  anggota  badan  dilukis,  hanya  yang  perlu-perlu saja atau yang dirasakan penting dalam tema lukisan. Misalnya ibu yang sedang  menyapu,  dilukis  hanya  satu  tangan  saja  yang  memegang  sapu  itu, sedang  tangan  yang  satu  yang  tidak  berperan  tidak  dilukis. Atau tangan yang lebih berperan dilukis lebih besar dan lebih mendapat tekanan.
   4. Perebahan atau lipatan
Sifat  ini  merupakan  peristiwa  yang  lucu  namun  logis  buat  anak-anak. Disebut juga sifat tegak lurus atau sifat rabatemen. Benda apa saja yang berdiri tegak pada suatu garis dasar akan dilukis tegak lurus pada garis dasar  tersebut  meskipun  garis  dasar  itu  berbelok  atau  miring  arahnya. Akibatnya semua benda tampak rebah atau malah terjungkir.
5. Transparan
Kebiasaan  dan kecenderuangan  anak menggambarkan  hal-hal  atau  peristiwa pada  ciri  ke  tiga  ini  adalah  penggambaran  yang  tembus  pandang.  Sebagai contoh  bila  anak  melihat  kucing  makan  ikan,  kemudian  kita  suruh  anak  itu untuk menggambarkan kucing, maka anak biasanya akan menggambar kucing dengan perut yang kelihatan ada ikannya. Pada  usia  tertentu  kita  dapat  menjumpai  lukisan  anak  dengan  sifat  tembus pandang. Anak cenderung melukiskan semua yang ia pikirkan dn ia mengerti meskipun ada beberapa benda objek yang berada di dalam ruang atau tempat tertutup. Akibatnya adalah  peristiwa  tembus  pandang  atau  sinar  X (x–ray). Contoh:  ibu  dan  bapak  duduk  di  dalam  rumah  dan  tertutup  dinding, namun dilukis  lengkap  dengan  benda  dan  perabot  lain. Kucing makan tikus.  Tikus yang di dalam perut kucing  dilukis juga.  Sabagai  bahan perbandingan lihat  Gambar 3.5.
Satu nilai yang dapat kita tiru dari anak-anak dengan karakterisrik gambar ini adalah kejujuran  dan  kepolosan  jiwa anak. Tentunya hal ini berbeda dengan orang dewasa yang penuh dengan kepura-puraan. 
6. Juxtaposisi.
Sifat Pemecahan masalah ruang (kedalaman jauh dekat) dalam  bidang  datar, diatasi dengan  dasar pemikiran  praktis. Anak melukis benda atau objek yang jauh di bagian atas kertas sedang yang dekat dibagian bawah. Bertebar namun artistic, mirip lukisan Bali.
7. Simetris (setangkep)
            Dalam melukis suatu objek sering timbul gejala atau hasrat untuk melukis hal-hal yang asimetris menjadi asimetris. Misalnya dua pohon besar di kiri dan di kanan, dua buah gunung kembar dengan matahari di tengah, setangkai bunga dengan daun kiri dan di kanan, dan sebagainya.
8. Proporsi (perbandingan ukuran)
Anak- anak lebih  mementingkan  proporsi  nilai  dari  pada  fisik. Hal-hal yang dianggap lebih penting dibuat lebih besar atau lebih jelas.
9. Lukisan bersifat cerita (naratif)
Lukisan/gambar yang dibuat anak merupakan ungkapan perasaan atau gejolak jiwa. Jadi lukisan adalah cerita anak, bukan sekedar mencoret sebagai aktivitas motoric atau gerak anatomis saja. Maka perlu ditanggapi  secara  wajar  dan dalam sikap menerima serta mengahargai

gambar anak SMA
sumber
http://ramainspirations.blogspot.co.id/2013/10/periodesasi-dan-karakteristik-seni-rupa.html
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgu3b-sMUb9z4t28vxgODyODSbch95pOg4N763QeSrmF0oa2QDUWYz2W5Moof1PfLPnF90bPBDkuS_9FIGAASTjOJRghnocehKghHl4SiGYvkTu9Gd3lScdOKXGC7Vfnwh9_eYdraLKwIY/s1600/102_5230.JPG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar